Senin, 13 Mei 2024

That’s My Woman

Ban mobil berwarna hitam doff  berhenti di depan sebuah gedung 3 lantai. Pintu terbuka dan muncul wanita dengan berpakaian santai menggunakan gamis panjang berwarna abu-abu. Menggunakan jilbab dan sneakers yang senada dengan warna baju, serta backpack ukuran sedang berwarna hitam. Wanita itu juga membawa paper bag tertulis brand roti ternama.

Ketika memasuki gedung tersebut, wanita itu langsung disambut dengan seorang wanita berkacamata. “Halo Teh Nasa, saya Widya sebagai penanggungjawab Podcast Suara Wanita. Ayok teh kita langsung ke lantai 3. Yang lain sedang bersiap-siap.”

Sepanjang jalan, mereka sedikit berbincang diselingi candaan dari Widya. Sesampainya di lantai, Nasa langsung mengeluarkan isi dari paper bag tersebut dan membagikannya ke orang-orang yang ada di lantai 3 termasuk ke Widya. Setelah selesai, Nasa diminta untuk langsung menempati kursi yang dihadapkan oleh meja dan mic serta beberapa jenis minuman dan jajanan khas pasar. Di sebrangnya terdapat kursi dan kondisi meja yang sama.

“Teh Nasa, ini Santi yang akan memandu podcast episode ini.” Ujar Widya. Nasa langsung tersenyum dan berjabat tangan serta memperkenalkan diri.

Setelah sedikit diskusi kecil antara Widya dan Santi, terdengar ada yang berkata

Ready…..

action…

Hallo guys selamat pagi, siang, dan sore. Apa kabar semuanya? Selamat datang di Podcast Suara Wanita edisi di hari rabu.” Ucap Santi dengan nada gembira diiringi suara tepuk tangan bersahutan di lantai 3.

“Okay guys pada podcast episode kali ini kedatangan tamu yang baru saja pulang dari luar negeri.  ada apa nih di luar negeri?” tanya Santi dengan sedikit tersenyum misterius.

Nasa, selaku tamu pun tertawa.”Biasa, iseng saja hehehe eh tidak teman-teman ya. Aku kebetulan ada perkerjaan sekaligus reuni sama teman-teman kala kuliah dulu.”

“Ooo begitu. Baiklah. Tapi sebelumnya kita ke inti podcast, Santi izin memperkenalkan diri dulu narasumber kali ini. Beliau adalah Namira Sapphire atau biasa dipanggil Teh Nasa. Teh Nasa ini merupakan pendiri dari komunitas baca di Desa Sindang, beliau juga merupakan seorang traveller dan penulis.”

“Jadi lumayan ya teh kesibukan nya?”

“Hehehe alhamdulillah badan masih mau diajak kemana-mana.”

“Tapi memang dipanggilnya Teh Nasa? ada sejarahnya tidak kenapa dipanggil Teh Nasa?”

“Dulu sebelum dipanggil Nasa, nama panggilanku itu Na.  Ketika tahun ke 2 kuliah, aku ikut kegiatan volunteer di salah daerah Jawa Barat. Kala itu di kelompok volunteer itu yang dipanggil Na itu ada 3 orang. Tidak mungkin kan 3 orang dengan nama yang sama dalam 1 grup. Akhirnya kita mencoba mencari nama panggilan lain agar tidak tertukar ketika memanggil. Ketika sudah di lokasi, anak-anak kecil di daerah itu memanggil aku Teh Nasa, singkatan dari kata awal namaku, Namira Sapphire. Ditambahkan teh karena di Jawa Barat. Dan ya semenjak saat itu setelah pulang kegiatan, panggilan itu terus berlanjut hingga sekarang bahkan di lingkungan keluarga juga mengubah panggilan menjadi Nasa. Di komunitas juga gitu. Padahal sudah selesai kegiatan volunteernya.”

“Oh begitu. Seperti episode sebelumnya, Podcast Suara Wanita di setiap rabu mendatangkan penulis dengan karyanya yang berhubungan tentang perempuan. Secara kebetulan Teh Nasa baru saja melakukan peluncuran buku tentang independent woman.”

“Sebenarnya awalnya penasaran kenapa diundang. Soalnya aku tidak berfokus soal perempuan tapi lebih ke literasi. Tapi setelah kemarin dihubungi sama Teh Widya katanya sekalian ceritakan soal buku terbaruku karena temanya soal independent woman.”

“Tapi aku infokan lagi ke semua teman-teman pendengar Podcast Suara Wanita, aku masih belajar mendalami soal independent woman, soal perempuan. Jadi aku akan lebih membahas soal sosok ‘independent woman’ di mataku yang aku jadikan inspirasi dalam buku ini. Jadi semisal ternyata berbeda dari yang teman-teman pendengar ketahui, silakan dikoreksi dan aku dengan senang hati menerima kritik dan saran asal membangun dan menggunakan bahasa yang sopan.” Ucap Nasa diakhiri dengan senyuman.

“Tapi teteh saja sudah independent woman. Seorang pegiat literasi, penulis, lalu jadi traveller juga. Sangat mandiri dan pekerja keras.” Ucap Santi dengan semangat.

No. aku yakin ada yang lebih wow dari aku. Aku tidak berani melabeli diriku sebagai independent woman.”

“Hehehe tapi pendengar juga setuju denganku teh. Oke baik. Kita langsung saja ya teh memulai podcastnya. Teh Nasa kemarin kan baru saja melakukan peluncuran buku baru dengan judul Dia Wanitaku. Bisa diceritakan tidak teh bagaimana proses awal dari buku baik itu pemilihan tema, cerita, hingga pada akhirnya menjadi buku best seller?”

“Sebelumnya mau mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membeli, membaca, bahkan ada yang sudah review buku ini. Aku sudah membaca ulasan kalian semua. Jadi, 2 minggu lalu aku baru saja melakukan peluncuran buku dengan judul Dia Wanitaku. Niat awal membuat buku itu adalah sebagai salah satu kado ulang tahun ibu. Alhamdulillah ternyata antusias para pembaca hingga membuat buku itu best seller. Terima kasih sekali lagi teman-teman atas semuanya. Ibu yang aku jadikan tokoh utama dalam cerita ini tidak kalah terkejutnya. Karena memang aku tidak cerita kalau menjadikan beliau sebagai tokoh di buku baruku.”

“Masya allah sekali teh. Memberikan kado ulang tahun dalam bentuk buku dan malah menjadi best seller. Apa alas an dari seorang The Nasa memberikan kado dalam bentuk buku?”

Nasa tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu. Ia seperti melihat kisah perjuangan sang ibu di fikirannya. Bagaimana sang ibu berjuang di kala Ayah Nasa harus istirahat panjang karena penyakit stroke yang menyerang secara tiba-tiba.

Nasa akui memori pengingat di otaknya tidak baik alias dia mudah sekali melupakan memori-memori kecil bahkan penting sekalipun. Alhasil tak banyak yang dia ingat masa kecilnya. Namun yang membekas adalah ketika sosok kepala rumah tangga bangun di pagi hari dengan kondisi tak bisa menggerakkan badan dan tidak bisa berbicara. Kala itu Nasa masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Nasa kecil bingung kenapa ayahnya seperti itu. Ia sedikit ketakutan melihat sosok ayahnya yang tidak seperti biasanya. Hanya bisa diatas tempat tidur. Tentu tidak mudah bagi keluarga Nasa menerima kejadian yang terbilang mendadak dan dari situlah perjuangan Ibu Nasa dimulai.

Ibu Nasa merupakan seorang guru di sekolah negeri dan swasta. Sebelum diangkat menjadi pegawai negeri, Ibu Nasa bekerja dari pagi hingga sore di 5 sekolah yang berbeda. Memang benar hingga sore, karena ada beberapa sekolah yang memulai kegiatan belajar di siang hingga sore hari. Nasa kecil sudah terbiasa dengan kesibukan ayah dan ibunya. Setiap pulang sekolah, Nasa akan ganti baju lalu main ke tetangga hingga sang ibu dan ayah pulang.

Hingga Nasa kelas 2 sekolah dasar, sang ibu diangkat menjadi pegawai negeri. Tentu itu merupakan kabar bahagia bagi keluarga Nasa. Beliau ditugaskan untuk mengajar di sekolah dengan jarak 45 km dari rumah. Tapi itu tidak mematahkan semangat Ibu Nasa agar mampu menghidupi keluarga. Ayah Nasa pun semangat untuk mengantar Ibu Nasa karena kebetulan satu arah dengan tempat kerja Ayah Nasa. Setelah diangkat menjadi pegawai negeri Ibu Nasa mempertahankan 1 sekolah dari 5 sekolah sebelumnya artinya Ibu Nasa bekerja untuk 2 sekolah.

Sejak Ayah Nasa sakit, Ibu Nasa menjalani 2 peran sekaligus. Menjadi sosok ibu yang mengurus rumah di pagi hari serta menjadi sosok ‘ayah’ yang bekerja. Bukan tak mudah menjalani dua peran tersebut. Ketika menjadi dewasa, Nasa sadar bagaimana sang ibu dulu mampu bekerja dan mengurus rumah. Tak jarang beliau di malam hari menyempatkan untuk menyetrika pakaian.

Mengenai Ayah Nasa, sudah berulang kali keluarga mencarikan obat terbaik untuk ayah. Mulai dari rumah sakit ternama, alternatif hingga pengobatan yang menurut Nasa sangat aneh. Namun hingga 10 tahun kondisi Ayah Nasa tidak kunjung membaik. Ayah Nasa akui ketika konsultasi ke dokter, dokter berkata bahwa Ayah tidak sepenuhnya bisa sehat seperti sedia kala. Hal itu yang membuat ayah tidak percaya lagi kepada dokter dan memilih pengobatan alternatif. Hingga di tahun pertama Nasa kuliah, ayah berpulang. Tentu itu menjadi pukulan tersendiri bagi keluarga.

“Teh?” panggil Santi kepada Nasa. karena melihat Nasa melamun lama.

“Eh, maaf-maaf jadi teringat sesuatu. Kenapa memilih untuk memberikan kado berupa buku karena ingin sedikit berbeda dari biasanya. Kebetulan juga bakatnya di menulis jadi ya sudah aku buat novel yang kisahnya berdasarkan kisah dari ibu. Tentu ada beberapa bagian yang aku edit dan tidak aku masukan karena kebutuhan cerita dan juga privasi ibu. Tapi hampir keseluruhan kisah itu menggambil dari ibu.”

“Oh begitu. Jadi memang ingin sedikit berbeda begitu ya teh. Tapi Teh Nasa tidak papa? Atau perlu istirahat dulu?”

“Tidak kok tidak perlu. I’m fine hehehe izin minum boleh?” tanya Nasa kepada Santi.

“Boleh teh silakan. Ada jajanan pasar juga. Kalau mau makanan berat kabari teh nanti dari team coba carikan.” Ujar Santi serius.

Nasa tertawa dibuatnya. “Hahaha oke siap Teh Santi.”

Setelah meminum air mineral dan sedikit mengatur napas, Nasa berkata,”kita lanjut ya Teh Santi.”

Santi menjawab dengan menganggukkan kepalanya.

“Menurut Teh Nasa, apa sih yang menarik dari buku yang teteh terbitkan kali ini?”

“Em… selain buku ini hadir sebagai kado dengan kisah perjuangan wanita dan kita bisa mengambilkan makna dari kisah sosok wanita ‘yang dipaksa’ menjadi independent woman. Bagaimana lingkungan memandang wanita tersebut.”

“Dan tidak menyangka akan best seller ya.” Ujar Santi.

“Itu bonusnya hehehe”

“Kalau boleh tau, sosok ibu yang menjadi inspirasi Teh Nasa itu seperti apa?”

“Sosok ibu dan ayah dalam keluarga. Menjadi independent woman karena kondisi tapi beliau sama sekali tidak mengeluh. Mengeluh akhir akhir ini karena penyakit orang tua, seperti punggungnya atau kakinya. Beliau itu sosok pekerja keras. Bekerja dengan jarak 45 km, kalau pulang pergi berarti sekitar 90 km. Belum di jalan ban bocor atau hujan. Di rumah pun masih  mengurus rumah, mengurus anak-anaknya dan juga ayah yang sedang sakit. Mungkin itu kalau aku pasti sakit. Ibu juga sosok yang tidak menyerah. Beliau pernah tes selama 12 kali untuk tes menjadi pegawai negeri namun tidak lolos dan pada akhirnya diangkat karena ada program dari pemerintah. Banyak kata-kata Mutiara yang tak jarang beliau berikan. Mungkin karena beliau guru kali ya jadi suka memberi motivasi ke muridnya jadi banyak kata-kata mutiara. Selain itu juga beliau mengingatkan anak-anaknya untuk menabung, dan harus ku akui beliau soal keuangan sangat bagus dan baik. Kadang dari kami sebagai anaknya suka berkata jangan percaya kalau mamah gak punya uang hehehe”

“Jadi beliau itu menjadi independent woman bukan karena keinginan sendiri tapi karena terpaksa ya Teh. Dan dari penurutan teteh sepertinya sangat excited membahas soal ibunya Teh Nasa.”

“Iya. Beliau itu spesial banget dalam hidupku. Beliau berjuang buat anaknya dan itu masih membekas layaknya film yang diputar berulang-ulang. Beliau selalu mengusahakan yang terbaik buat anaknya apalagi soal pendidikan. Ada satu kisah yang kala itu memorable untukku. Ketika SMA dan waktunya membayar spp, beliau membawakanku uang koin.”

“Uang koin?” Tanya Santi setengah percaya.

“Iya uang koin. Uang 500 dan 1000 an koin itu loh teh. Akhirnya ya udah bawa saja. Tapi pada akhirnya uangnya aku tukar di warung. Tapi kalau untuk sehari-hari aku tetap pakai uang koin. Dan itu masih aku ingat sekarang. Makanya kalau ada uang koin aku suka masukin ke celengan. Nanti kalau sudah penuh di pecah lalu ditukar ke warung begitu.” Ucap Nasa sembari tertawa.

“Kadang kita sebagai anak ingin tidak merepotkan. Makanya ketika kuliah aku sambil kerja. Tapi beliau selalu bilang uang hasil kerja di tabung. Kalau buat anak sekolah, insya allah rezeki selalu ada. Makanya aku kalau bahas soal ibu suka gak kuat hehehe”

Melihat mata Nasa mulai berembun, Santi sontak meraih tisu yang ada didekatnya dan memberikan kepada Nasa.

“Maaf banget teh jadi sensitif. Tapi harus ku akui, kalo terkait orang tua apalagi ibu itu langsung nangis. Beliau pernah bilang, ketika di sekolah tempat beliau mengajar ada semacam tes kesehatan. Setelah di cek, tingkat kelelahan ibu itu melebihi batas yang seharusnya manusia. Beliau bahkan menapouse lebih cepat dikarenakan kelelahan dan stress yang beliau alami.”

It’s okay teh. Manusiawi kok. Apalagi melihat perjuangan ibu Teh Nasa. Ibunya teteh itu seperti wonder woman.”

 “Apa tanggapan dari lingkungan atau tetangga lain terkait ibunya Teh Nasa?”

“Dewasa ini aku baru sadar teh, bagaimana lingkungan memandang keluargaku. Ada yang memandang kagum, ada yang memandang biasa saja, ada yang bahkan memanfaat keluargaku. mereka beranggapan dengan kondisi pekerjaan ibu yang stabil, gajian terus tiap bulan, kadang dapat bonus, maka semua akan baik-baik saja. Tapi mereka tidak tahu bagaimana ibu harus memutar otak agar kondisi keuangan tetap stabil dan adil. Ibu selalu menanamkan kepada anaknya bahwa semua yang terjadi kepada kita sudah ditakdirkan oleh yang maha kuasa. Maka tugas kita adalah berusaha dan berserah. Banyak hal yang sudah dilewati oleh Ibu. Aku bersyukur terlahir di keluarga ini. Meski di awal mereka kekurangan, namun tidak menggoyahkan semangat untuk hidup lebih baik. ”

“Kalau dilihat dari cerita Teh Nasa, sepertinya dekat dengan sang ibu ya.”

No. Aku dekat dengan ibu itu ketika kuliah malah. Aku kurang paham penyebabnya kenapa tapi mungkin karena sejak kecil aku tidak terlalu sering bertemu dengan ibu. Ditambah aku kan tidak punya banyak topik pembicaraan dan aku orangnya itu pendiam. Jadi ya gitu hehehe gak banyak interaksi dengan ibu. Hingga ketika bapak tidak ada, kakak tertua meminta untuk sering menghubungi ibu karena dikarenakan diantara kami 4 saudara, aku yang bisa dibilang banyak waktu untuk menghubungi ibu. Kedua saudara yang lebih tua dari aku sudah menikah dan mungkin sedikit sulit menghubungi ibu, adikku sekolah di pondok pesantren, dan hal itu pasti dia tidak diperbolehkan membawa telpon genggam. Bisa menghubungi ibu dengan jadwal tertentu. Kalau aku kan kuliah, dan gak banyak kegiatan kala itu jadi ya cocok. Dan disitu aku baru sadar, bahwa aku tidak banyak memori dengan keluarga terutama dengan ibu. Aku masih ingat dulu ketika SMA, aku menghubungi orang rumah hanya untuk minta jemput pulang, atau minta uang. Sejak saat diminta itu, hampir setiap malam aku menelpon beliau. Setelah magrib biasanya.”

“Hingga sekarang, teh?”

“iya. Hingga saat ini. Kalau di rumah kan tidak. Kadang kita mengobrol setelah makan malam. Atau ketika sedang memasak begitu. Kalau aku tidak di rumah, aku biasanya telpon setelah magrib. Mengikuti waktu yang pas. Atau waktu pastinya di jam 7.”

“Menurut teteh arti independent woman itu apa sih?”

“Bagiku semua wanita itu hebat. Seorang ibu rumah tangga sekalipun, kala ia berjuang untuk rumah dan keluarganya. Tidak mudah kan teh mengurus rumah dan keluarga. Aku berapa kali melihat video cuplikan soal bagaimana kalau pekerjaan seorang ibu diganti dengan uang. Wah itu setara gaji guru yang pegawai negeri golongan 3. Dan definisi independent woman itu berbeda-beda setiap orang. Definisi independent woman dari aku adalah wanita yang mandiri, pekerja keras, wanita yang mampu menahan ego nya. Yang mampu menentukan keputusan yang tepat untuk kedepannya. Yang mampu menghadapi dunia, dan kuat secara mental dan fisik. Dan mampu menyeimbangkan antara pekerjaan dan kondisi rumah. Itu definisi dari aku karena aku melihat kondisi independent woman yang seperti itu. Mungkin ada yang mempunyai definisi yang berbeda karena lingkungan atau apa yang dia pelajari berbeda.”

“okehh. Terakhir nih teh, apa pesan teteh buat para perempuan di luar sana?”

“Em… pandanglah dunia itu luas. Jangan terpaku dengan 1 hal saja. Kita perlu cari pengalaman dan kemampuan agar bisa bertahan. Menurutku tidak masalah wanita bekerja, seperti yang aku pelajari dari ibu bahwa kita sebagai perempuan bekerja bukan untuk menyaingi laki-laki, tapi untuk membantu perekonomian agar jauh lebih. Tentu tidak lupa dengan kondisi rumah. Suami dan anak juga bisa kok berperan dalam rumah tangga. Membantu meringankan pekerjaan rumah. Pokoknya saling bahu-membahu sehingga pekerjaan jadi lebih ringan. Jangan lupa bersyukur dan berserah. Semangat untuk kita semua.” Ucap Nasa sembari tersenyum.

“Oke. Itu adalah akhir kalimat dari Teh Nasa. Terima kasih Teh Nasa sudah mau berbagi terkait buku yang baru saja terbit. Seperti biasa setelah podcast ini tayang akan ada kuis dengan hadiah yaitu buku terbarunya Teh Nasa dan tanda tangannya. Nantikan rules kuisnya di akun instagram kami. Bye semua.” Ucap Santi mengakhiri podcast.