Kau
tidak rindu?
Kalimat itu yang selalu ditanyakan oleh sahabatku,
Zahra. Di kantor, di transportasi, di jalan, di flat, bahkan di telpon. Aku heran
apakah dia tidak bosan. Aku saja yang mendengarnya sangat bosan. Tapi seperti
sudah terjadwal maka ia akan bertanya setiap kali ada kesempatan. Bukan tanpa
sebab Zahra bertanya seperti itu, sejak 2 minggu lalu tepatnya aku mendapatkan
E-mail dari kakakku dan “dia”. E-mail itu berisikan bahwa orang yang membuatku
kabur ke London akan segera menikah. Yahh ternyata orang yang dulu menjanjikan
akan hidup bahagia bersamaku memilih jalan lain untuk bahagia tentu bukan
denganku. Karena kejadian itu ibuku dengan semangatnya menjodohkanku dengan
beberapa kenalannya dan berharap aku segera move
on justru sebaliknya itu membuatku tertekan dan membuatku kabur ke London, kota
yang pernah jadi salah satu tempatku menempuh study lanjutan. Namun bukan
E-mail itu yang membuat Zahra terus menerorku melainkan ada kalimat bahwa ibuku
sakit dan meminta aku pulang. Aku ragu membalas E-mail dari saudara tertuaku
itu.
Dan selama 2 minggu juga Zahra terus membujukku.
Bukan karena mantan tunangan akan menikah melainkan kondisi ibu yang
menghawatirkan. Aku tau egoku terlalu tinggi untuk masalah ini. Tapi fikiranku
saat itu terlalu jengkel akan yang dilakukan ibu. Aku merasa ibu terlalu memasuki
ranah masalah pribadiku. Aku tidak suka jika terlalu diatur. Sejak dulu ibu
selalu mengatur pilihanku. Sejak itu aku tidak pernah punya pendirian yang
tetap. Karena aku dibiasakan oleh ibuku seperti itu.
Zahra selalu mengingatkanku akan berjasanya seorang
ibu dan yang berhubungan dengan ibu. Ia tau alasanku tapi seolah itu tidak
menghalanginya untuk terus memaksa pulang. Bagaimana jika kau tidak bisa
bertemu dengan ibumu lagi? Bagaimana kalau kau menyesal tidak pulang cepat? Itu
beberapa kalimat yang Zahra lontarkan selama merayuku.
Tempat minggu ketiga sejak E-mail itu. Dan Zahra
masih saja menerorku. Dia bahkan sudah mengajukan izin dan membelikanku tiket. Dan
yaa pada akhirnya aku luluh dan mengiyakan untuk pulang. Zahra tersenyum senang
mendengar keputusanku. Aku menatap langit London sore itu. Perjalanan dari
stasiun menuju flat lumayan jauh. Aku merapatkan mantelku. Kami bergegas untuk
kembali guna mempersiapkan kepulanganku. Ibu
anakmu akan pulang. Tunggulah sebentar lagi.