Kamis, 28 Mei 2020

Akankah Menyesal Pulang Terlambat?



Kau tidak rindu?
Kalimat itu yang selalu ditanyakan oleh sahabatku, Zahra. Di kantor, di transportasi, di jalan, di flat, bahkan di telpon. Aku heran apakah dia tidak bosan. Aku saja yang mendengarnya sangat bosan. Tapi seperti sudah terjadwal maka ia akan bertanya setiap kali ada kesempatan. Bukan tanpa sebab Zahra bertanya seperti itu, sejak 2 minggu lalu tepatnya aku mendapatkan E-mail dari kakakku dan “dia”. E-mail itu berisikan bahwa orang yang membuatku kabur ke London akan segera menikah. Yahh ternyata orang yang dulu menjanjikan akan hidup bahagia bersamaku memilih jalan lain untuk bahagia tentu bukan denganku. Karena kejadian itu ibuku dengan semangatnya menjodohkanku dengan beberapa kenalannya dan berharap aku segera move on justru sebaliknya itu membuatku tertekan dan membuatku kabur ke London, kota yang pernah jadi salah satu tempatku menempuh study lanjutan. Namun bukan E-mail itu yang membuat Zahra terus menerorku melainkan ada kalimat bahwa ibuku sakit dan meminta aku pulang. Aku ragu membalas E-mail dari saudara tertuaku itu.
Dan selama 2 minggu juga Zahra terus membujukku. Bukan karena mantan tunangan akan menikah melainkan kondisi ibu yang menghawatirkan. Aku tau egoku terlalu tinggi untuk masalah ini. Tapi fikiranku saat itu terlalu jengkel akan yang dilakukan ibu. Aku merasa ibu terlalu memasuki ranah masalah pribadiku. Aku tidak suka jika terlalu diatur. Sejak dulu ibu selalu mengatur pilihanku. Sejak itu aku tidak pernah punya pendirian yang tetap. Karena aku dibiasakan oleh ibuku seperti itu.
Zahra selalu mengingatkanku akan berjasanya seorang ibu dan yang berhubungan dengan ibu. Ia tau alasanku tapi seolah itu tidak menghalanginya untuk terus memaksa pulang. Bagaimana jika kau tidak bisa bertemu dengan ibumu lagi? Bagaimana kalau kau menyesal tidak pulang cepat? Itu beberapa kalimat yang Zahra lontarkan selama merayuku.
Tempat minggu ketiga sejak E-mail itu. Dan Zahra masih saja menerorku. Dia bahkan sudah mengajukan izin dan membelikanku tiket. Dan yaa pada akhirnya aku luluh dan mengiyakan untuk pulang. Zahra tersenyum senang mendengar keputusanku. Aku menatap langit London sore itu. Perjalanan dari stasiun menuju flat lumayan jauh. Aku merapatkan mantelku. Kami bergegas untuk kembali guna mempersiapkan kepulanganku. Ibu anakmu akan pulang. Tunggulah sebentar lagi.


Senin, 11 Mei 2020

KERINDUAN




Rindu ini bisa kau utarakan langsung. Yang jadi permasalahan, apakah dia mendengar? Apakah dia merasakan hawa rindumu? Dirimu sering bertanya, apakah dia tidak menanam rindu juga? Yang kelak dipetik ketika waktunya. Tapi kamu tak ambil pusing akan hal itu. Yang kamu tau rindu kepada dia semakin hari semakin bertambah.  Kamu tidak masalah apakah rindumu akan terbalas. 
Hari dimana rindu itu siap dipetik telah tiba. Kamu begitu bersemangat dan tak henti hentinya menebar senyum. Namun, rindu itu tak nampak senang. Rindu itu menunjukkan bahwa dia yang selama ini kau rindukan ternyata sudah memiliki sumber kerinduan yang lain. Disaat ini apa yang harus kau lakukan. Apakah kau bahagia dengan pilhannya atau justru merana?